Dalam khazanah kebudayaan Aceh, peusijuek menempati posisi yang istimewa sebagai ritual yang sarat nilai religius, doa, dan simbol-simbol keberkahan. Namun, lebih dari itu, peusijuek memiliki fungsi sosial yang jauh lebih luas. Ia menjadi medium yang mempertemukan individu, memperkuat hubungan antarwarga, serta membangun harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Di balik setiap tetes air yang dipercikkan dan setiap rangkaian doa yang diucapkan, tersimpan nilai perekat sosial yang telah hidup dalam masyarakat Aceh selama berabad-abad.
Peusijuek tidak hanya hadir dalam peristiwa sakral atau keagamaan, tetapi juga mewarnai berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Tradisi ini dilakukan ketika seseorang membeli rumah baru, kendaraan, boat, memulai usaha, naik jabatan, atau bahkan ketika menyelesaikan konflik sosial. Kehadiran masyarakat dalam acara peusijuek membuat momentumnya bukan sekadar perayaan pribadi, melainkan kebersamaan yang dihayati secara kolektif. Orang-orang datang bukan hanya sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari komunitas yang saling mendoakan, mendukung, dan menguatkan.
Rangkaian pelaksanaan peusijuek memperlihatkan betapa kuatnya nilai gotong royong dalam masyarakat Aceh. Persiapan bahan-bahan seperti breuh padee, daun teurimong, air sejuk, serta hidangan untuk para tamu dilakukan secara bersama-sama. Keluarga, tetangga, dan tokoh masyarakat ikut terlibat tanpa pamrih. Kebersamaan ini membangun rasa kepemilikan sosial, seolah menegaskan bahwa keberhasilan atau kebahagiaan seseorang adalah bagian dari kebahagiaan kolektif masyarakat. Inilah salah satu alasan mengapa peusijuek berhasil bertahan sebagai tradisi yang terus dihargai hingga kini.












