
Selain mempererat hubungan sosial yang sudah ada, peusijuek juga berperan sebagai pembuka jalan bagi terbentuknya jaringan sosial baru. Dalam konteks ekonomi misalnya, peusijuek yang dilakukan saat pembukaan usaha baru bukan hanya sarana memohon keberkahan, tetapi juga menjadi momen memperkenalkan usaha tersebut kepada masyarakat. Para tamu yang hadir dapat menjadi pelanggan pertama, penyebar informasi, bahkan pendukung usaha itu sendiri. Dengan demikian, peusijuek tidak hanya memberikan makna spiritual, tetapi juga memperkuat modal sosial yang sangat penting bagi perkembangan ekonomi masyarakat Aceh.
Tradisi ini juga memegang fungsi signifikan sebagai mekanisme penyelesaian konflik. Di beberapa wilayah, peusijuek dijadikan simbol perdamaian antara kelompok atau individu yang sebelumnya bertikai. Dalam acara semacam ini, pihak-pihak yang berselisih ditempatkan berdampingan, kemudian diberikan percikan air peusijuek sebagai simbol pendinginan emosi dan pembukaan lembaran baru. Bahan-bahan yang digunakan—khususnya air dan daun teurimong—mengandung makna kesejukan, ketenangan, dan ketulusan. Pesan moralnya jelas: konflik tidak dapat diselesaikan dengan amarah, melainkan dengan hati yang sejuk dan niat baik untuk saling memaafkan.
Namun, pelestarian tradisi peusijuek menghadapi tantangan tersendiri di tengah arus modernisasi dan globalisasi. Sebagian generasi muda mulai merasa jauh dari tradisi yang dianggap “kurang relevan” dengan kehidupan modern. Meski demikian, terdapat juga banyak komunitas pemuda Aceh yang justru bergerak aktif menghidupkan kembali tradisi ini. Mereka mengadakan seminar budaya, membuat dokumentasi digital, hingga menyelenggarakan workshop tentang makna dan tata cara peusijuek. Upaya-upaya ini menunjukkan bahwa tradisi dapat tetap hidup jika dipahami secara kontekstual dan diadaptasi dengan perkembangan zaman.












