Erick memulai era baru bagi klub Inter Milan setelah sebelumnya lama dipegang oleh Massimo Moratti.
Menurut informasi yang dicatat oleh Forbes, Erick mengeluarkan dana hingga 480 juta dollar Amerika demi mengakuisisi 70% saham Inter Milan yang dimiliki Moratti.
Namun di era kepemimpinan Erick Thohir, Inter Milan gagal berprestasi tinggi. Bahkan prestasi terbaik mereka hanya finish di peringkat 4 klasemen Serie A musim 2015/2016 dan 2017/2018.
Kebersamaan Erick Thohir dengan I Nerazzuri hanya selama 6 tahun dan tongkat estafet kepemimpinan klub berganti ke pengusaha asal China Steven Zhang.
Kecintaan Erick kepada sepak bola tak hanya tergambar dari usahanya dalam mengakuisisi Inter Milan. Erick juga sempat membeli saham klub asal Major League Soccer (MLS), DC United pada 2012 silam.
Namun dirinya menjual klub tersebut pada 2018. Setelahnya, ia juga membeli klub kasta ketiga Inggris, Oxford United dari sesama pengusaha Indonesia, Anindya Bakrie sebesar 51% pada 2022 lalu.
Pada level klub Indonesia, Erick juga tercatat memiliki saham di klub Persis Solo bersama Kaesang Pangarep dan Kevin Nugroho.
Erick sempat menjadi bagian dari Persija Jakarta sebagai Direktur Keuangan pada tahun 2021. Selain itu dirinya juga sempat menjabat Wakil Komisaris Utama Persib Bandung pada 2014.
Bukan hanya sepak bola, Erick juga pernah memiliki saham klub NBA yakni Philadelphia 76ers. Ini menjadikannya sebagai orang Asia pertama yang memiliki tim bola basket NBA.
Erick Thohir juga menjadi pemilik klub basket Satria Muda. Erick bahkan sempat jadi Ketua PB Perbasi periode 2006-2010, lalu menjabat presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA) sejak 2006 hingga saat ini










