LINI MEDIA — Tradisi Meugang yang biasanya dirayakan bersama keluarga menjelang Ramadan dijalani dengan suasana berbeda oleh puluhan pasien di Rumah Singgah Blood For Life Foundation (BFLF) Indonesia, Banda Aceh. Mereka tetap berada di ibu kota provinsi untuk menjalani pengobatan di rumah sakit rujukan.
Ketua BFLF Indonesia, Michael Octaviano, menyampaikan rumah singgah tersebut beroperasi selama 24 jam untuk membantu warga Aceh, terutama pasien penyakit kronis dan penyintas bencana yang membutuhkan pengobatan lanjutan di RSUD Zainoel Abidin.
“Rumah singgah terbuka 24 jam bagi warga Aceh dan warga penyintas bencana Aceh yang memerlukan pengobatan pasca bencana di Banda Aceh seperti RSUDZA yang merupakan rumah sakit rujukan warga Aceh,” ujar Michael di Banda Aceh, Senin, 16 Februari 2026.
Data terbaru menunjukkan jumlah penghuni rumah singgah mencapai 47 orang, terdiri dari 13 pasien, 29 pendamping, serta 5 pengurus yang siaga. Sejak berdiri, BFLF telah membantu 1.623 pasien memperoleh akses layanan kesehatan.
Para pasien berasal dari berbagai daerah di Aceh, dengan Aceh Utara menjadi daerah asal terbanyak. Selain itu terdapat pasien dari Aceh Barat, Aceh Tengah, Simeulue, Pidie, Langsa, Aceh Timur, Bener Meriah, dan Aceh Selatan.
Beberapa pasien yang dirawat menderita penyakit kronis seperti lupus, kanker ovarium, kanker payudara, tumor, hingga gangguan autoimun. Rumah singgah juga menampung pasien anak yang membutuhkan perawatan intensif, termasuk pasien pasca operasi kepala, bayi dengan epilepsi, serta anak dengan gangguan jantung.












