
Syair Likok Pulo adalah inti dari kesenian ini. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai spiritual dan moral yang diwariskan turun-temurun. Banyak syair berupa doa keselamatan sebelum melaut, puji-pujian kepada Tuhan, kisah para nabi, nasihat agar manusia tidak serakah, hingga renungan tentang bagaimana manusia harus menjaga keseimbangan alam. Syair-syair ini ibarat kitab moral masyarakat pulau, dihafal sejak kecil, dinyanyikan dalam berbagai kesempatan, dan menjadi bagian dari memori kolektif mereka.
Saat Likok Pulo dipentaskan, penonton tidak hanya menyaksikan, tetapi ikut merasakan energi yang dipancarkan. Ada keharuan yang mengalir ketika vokal para penyair meninggi lalu turun perlahan, seperti pasang-surut ombak. Musik Likok Pulo tidak memerlukan alat instrumen rumit—semua bersumber dari suara manusia, hentakan tubuh, dan tepukan ritmis. Justru dari kesederhanaan itu muncul kekuatan spiritual yang membangkitkan rasa haru dan kebersamaan.
Di tengah arus modernitas dan globalisasi yang sering mengikis nilai-nilai tradisi, Likok Pulo tetap berdiri sebagai penanda identitas spiritual masyarakat pesisir Aceh. Kehilangannya bukan sekadar hilangnya sebuah kesenian, tetapi hilangnya cara hidup, hilangnya hubungan sakral antara manusia dan alam, hilangnya ruang pendidikan moral yang telah menjadi fondasi masyarakat pulau selama ratusan tahun.
Kini tantangannya terletak pada regenerasi. Generasi muda mungkin mengenal tarian dan nyanyiannya, tetapi tidak semuanya memahami makna filosofis di dalamnya. Pelestarian Likok Pulo tidak boleh berhenti pada hafalan gerakan dan syair. Ia harus dijaga sebagai ritual sosial, ruang belajar nilai agama, dan cermin identitas. Pendidikan budaya di sekolah-sekolah, pelatihan di sanggar, serta dokumentasi yang baik menjadi kunci agar makna Likok Pulo tidak terkikis oleh zaman.












