Namun selama suara ombak tetap terdengar di Pulau Breuh, Pulau Nasi, dan seluruh gugusan Pulau Aceh; selama doa masih dilantunkan sebelum nelayan berangkat ke laut; selama masyarakat masih memandang laut sebagai sahabat sekaligus guru kehidupan—Likok Pulo akan tetap hidup. Ia mungkin tampil di panggung modern, direkam dalam bentuk digital, atau dikolaborasikan dengan seni kontemporer. Namun akarnya tetap tertanam pada keheningan lautan yang menyaksikan kelahirannya.
Di situlah kekuatannya: Likok Pulo bukan hanya seni yang dilihat, tetapi seni yang dirasakan, dihayati, dan diwariskan sebagai napas spiritual masyarakat pesisir Aceh.(Adv)












