Tragedi serupa pernah terjadi di Stadion Port Said di Mesir tahun 2012, lalu. Sebanyak 74 orang tewas dalam kerusuhan. Pada tahun 1989, sebanyak 96 suporter Liverpool tewas karena stadion terlalu penuh dan pagar ambruk di Stadion Hillsborough, Sheffield.
Saluran berita terpopuler di Cina, CCTV 13 juga menurunkan laporan utamanya tentang tragedi di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu malam. “Polisi setempat sedang melakukan investigasi atas peristiwa tersebut,” kata pembaca berita CCTV 13 dalam versi Mandarin pada Ahad pagi.
Tidak ketinggalan, platform pesan video singkat yang populer di Cina, Kuai Shou, memperlihatkan video-video tentang peristiwa maut di kandang klub sepak bola berjuluk “Singo Edan” itu. Video-video tersebut diunggah oleh beberapa media lokal berbahasa Mandarin, seperti Tianmu Xinwen, Hongxing Xinwen, Xibeiwang Kantai, dan Shichuan Guangcha.
“Yinni tiyuchang baoli shijian”, tulis Tianmu Xinwun, pada video berita yang diunggah oleh beberapa pengguna akun Kuai Shou. Judul video tersebut dalam bahasa Indonesia berarti “Tragedi Kerusuhan di Stadion Indonesia”.
Tianmu Xinwun, selain itu, memberikan subjudul “127 suporter dan dua polisi tewas” dan “mayoritas korban akibat gas air mata”. Media tersebut juga mengutip pernyataan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Irjen Nico Afinta.
Hanya dalam hitungan beberapa jam sejak diunggah di Kuai Shou, video-video tragedi berdarah di Stadion Kanjuruhan langsung viral di Cina. Negara ini memiliki jumlah warganet terbesar di dunia.(Republika.co.id)












