Scroll untuk baca artikel
AdvertorialWisata

Panglima Laot, Penjaga Adat dalam Pusaran Gelombang

0
×

Panglima Laot, Penjaga Adat dalam Pusaran Gelombang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Khanduri Laot.

Di balik kemegahan Khanduri Laot yang digelar setiap tahun di berbagai pesisir Aceh, berdiri sebuah figur sentral yang menjaga keberlanjutan tradisi tersebut: panglima laot. Ia bukan pejabat pemerintahan, bukan pula pemimpin politik yang dipilih melalui kampanye atau suara terbanyak. Namun bagi para nelayan, panglima laot adalah sosok pemangku otoritas tertinggi dalam adat laut—penjaga keteraturan, keseimbangan, sekaligus pelindung kehidupan yang bergantung pada samudra. Keberadaannya mengingatkan bahwa laut tidak hanya diatur oleh hukum negara, tetapi juga dijaga oleh kearifan lokal yang hidup dalam kesadaran masyarakat pesisir.

Tugas panglima laot bukanlah tugas sederhana. Ia harus memiliki kebijaksanaan, ketenangan, dan pengetahuan mendalam tentang karakter laut. Setiap gelombang, arah angin, hingga pola musim harus dipahaminya. Ia juga harus mengetahui zona tangkap, wilayah mana yang menjadi hak kelompok tertentu, hingga area yang harus dijaga demi kelestarian biota laut. Dalam penyelenggaraan Khanduri Laot, panglima laot menjadi titik pusat seluruh keputusan. Tanpa restunya, ritual tidak dapat dilaksanakan. Bahkan pemilihan hewan kurban dan tata cara pelaksanaannya pun ditentukan melalui musyawarah yang dipimpin olehnya. Pada titik ini, panglima laot bukan hanya pemimpin adat, tetapi juga penghubung spiritual antara manusia dan laut.

Table of Contents

Selepas ritual berlangsung, kewenangan panglima laot semakin tampak dalam kehidupan sehari-hari nelayan. Ia berwenang menetapkan aturan penggunaan alat tangkap, termasuk menentukan jenis alat yang dilarang karena merusak habitat laut. Jaring harimau, pukat ilegal, atau alat tangkap lain yang berpotensi merusak ekosistem akan langsung dibahas melalui musyawarah adat yang dipimpinnya. Tidak jarang panglima laot bertindak sebagai hakim adat ketika terjadi konflik antar-nelayan—baik perselisihan batas wilayah tangkap, sengketa hasil laut, hingga pelanggaran adat. Alih-alih membawa persoalan ke ranah hukum negara yang prosesnya panjang dan berbelit, para nelayan lebih percaya bahwa panglima laot mampu memberi penyelesaian yang adil, cepat, dan tetap menjaga keharmonisan komunitas.

Eksplorasi konten lain dari LiniMedia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca