LM, WASHINGTON – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyeru warganya yang berada di Rusia untuk segera meninggalkan negara tersebut agar terhindar dari wajib militer. Seruan tersebut terkhususkan kepada mereka yang berkewarganegaraan ganda AS-Rusia.
Deplu AS mengungkapkan, bagi warga yang ingin meninggalkan Rusia, opsi penerbangan komersial terbatas. “Jika Anda ingin meninggalkan Rusia, Anda harus membuat pengaturan independen sesegera mungkin,” katanya dalam sebuah pernyataan, Rabu (28/9/2022).
Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Moskow turut merilis peringatan kepada warga AS yang juga memiliki kewarganegaraan Rusia. “Rusia dapat menolak untuk mengakui kewarganegaraan ganda AS, menolak akses mereka ke bantuan konsuler AS, mencegah keberangkatan mereka dari Rusia, dan wajib militer berkewarganegaraan ganda untuk dinas militer,” katanya.
Kedubes AS di Moskow mengaku kemampuannya membantu warga AS di Rusia sangat terbatas. Mereka khawatir situasinya semakin memburuk di kemudian hari. Saat ini terdapat kebijakan wajib militer bagi warga Rusia. Hal itu membuat warga di sana “kabur” ke negara-negara tetangga Rusia, termasuk Eropa.
Pada Selasa (27/9/2022), Kazakhstan mengungkapkan, mereka telah menerima kedatangan 98 ribu warga Rusia. Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev mengatakan, negaranya berkomitmen melindungi warga Rusia yang “kabur” untuk menghindari “situasi tanpa harapan”. Pernyataan Tokayev cukup janggal karena dia merupakan sekutu Vladimir Putin.
Sementara itu, badan perbatasan Uni Eropa, Frontex, mengungkapkan, warga Rusia yang memasuki wilayah mereka meningkat signifikan. “Selama sepekan terakhir, hampir 66 ribu warga Rusia memasuki Uni Eropa, lebih dari 30 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Sebagian besar dari mereka tiba di Finlandia dan Estonia,” kata Frontex dalam sebuah pernyataan pada Selasa lalu.












