Scroll untuk baca artikel
Advertorial

Dari Balai Desa ke Panggung Nasional: Jejak Perjalanan Didong Mengikuti Waktu

0
×

Dari Balai Desa ke Panggung Nasional: Jejak Perjalanan Didong Mengikuti Waktu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi.

Pemerintah daerah turut berperan dengan memasukkan Didong dalam agenda festival tahunan. Hal yang sebelumnya hanya hiburan masyarakat kini menjadi simbol resmi kebudayaan Gayo. Kehadiran Didong di panggung profesional membuka mata banyak orang tentang kekayaan musikal yang selama ini tersembunyi di dataran tinggi Aceh.

Namun perjalanan Didong di ruang publik tidak selalu mulus. Tantangan terbesar adalah menjaga autentisitas. Ketika Didong dibawa ke panggung modern, syair-syairnya sering dipendekkan agar sesuai durasi acara; ritme dipercepat; dan terkadang makna syair menjadi lebih ringan. Sebagian tetua adat khawatir Didong akan kehilangan ruhnya.

Table of Contents

Ilustrasi.

Di sinilah muncul sejumlah seniman yang mencoba menjembatani tradisi dan inovasi. Mereka tetap mempertahankan struktur syair, menjaga adab dalam pembukaan suluk, dan mengajarkan generasi muda untuk memahami makna syair sebelum memainkannya. Bagi mereka, Didong tidak boleh hanya menjadi tontonan; ia harus tetap menjadi tuntunan.

Kini, Didong tidak hanya tampil di balai desa, tetapi juga di televisi, media sosial, hingga event internasional. Ada kelompok Didong yang tampil di Malaysia, Brunei, dan Singapura dalam acara budaya. Keunikan ritmenya yang cepat dan syairnya yang filosofis membuat Didong mudah mencuri perhatian.

Generasi muda pun mulai bangga mempelajari Didong. Tidak sedikit anak muda Gayo yang membuat konten TikTok atau YouTube dengan latar suara Didong. Ada juga yang memadukan Didong dengan musik elektronik, menciptakan genre baru yang populer di kalangan remaja.

Eksplorasi konten lain dari LiniMedia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca