Namun tentu saja, dimensi ekonomi dari kerupuk mulieng menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan. Banyak keluarga menggantungkan penghasilan harian dari produksi kerupuk ini. Mereka menjual hasil jemuran ke pengepul, pasar tradisional, hingga pedagang yang memasarkannya ke wilayah Banda Aceh, Medan, dan kabupaten lainnya di Aceh. Keuntungan yang didapat mungkin tidak besar secara individu, tetapi jika dilakukan secara konsisten, mampu menopang kebutuhan rumah tangga. Di sinilah cerita ekonomi kerakyatan menemukan wajahnya yang paling nyata: sederhana namun berkelanjutan, kecil namun stabil.
Kerupuk mulieng juga menjadi bagian penting dari identitas kuliner Pidie. Di banyak acara keluarga, hajatan, hingga kenduri kampung, kerupuk ini sering menjadi pelengkap hidangan. Bahkan banyak perantau Pidie di kota besar membawa pulang kerupuk mulieng ketika mudik sebagai oleh-oleh khas. Dari situlah jangkauannya menyebar, menjadi semacam “duta kuliner” yang memperkenalkan Pidie melalui rasa gurih yang sangat spesifik.

Kehadiran tugu aneuk mulieng di Pidie mempertegas status kerupuk mulieng sebagai ikon lokal. Bentuk tugu yang terinspirasi dari biji melinjo tidak hanya simbol estetika, tetapi juga representasi budaya tentang bagaimana produk kuliner dapat membentuk identitas suatu daerah. Tugu itu menjadi penanda bahwa Pidie tidak hanya kaya akan sejarah dan seni, tetapi juga punya tradisi kuliner kuat yang ingin dijaga. Di mata warga, tugu ini bukan sekadar benda beton, melainkan manifestasi rasa bangga terhadap hasil kerja masyarakatnya sendiri.












