Dalam pidatonya, Ameer mengutip kandungan Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah akan menambah nikmat bagi hamba yang bersyukur, sedangkan mengingkari nikmat akan mendatangkan azab.
“Mensyukuri nikmat Allah ini secara turun-temurun telah diwujudkan dalam masyarakat Aceh melalui berbagai tradisi adat, seperti para nelayan cara bersyukurnya dengan khanduri laut dan para petani dengan khanduri blang dan kenduri glee,” katanya.
Kata Ameer bahwa tradisi-tradisi tersebut pada masa kini telah disesuaikan dengan ajaran Islam sehingga tidak mengandung unsur kemusyrikan.

Dalam kesempatan itu, Ameer menjelaskan bahwa pemberian makanan kepada ikan atau makhluk hidup lainnya sebagai bagian dari kegiatan adat dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap alam dan dapat bernilai ibadah apabila diniatkan dengan baik.
“Kalau kita misalnya memberi makan ikan dari kepala kerbau atau ikan-ikan lain itu justru dapat pahala. Artinya kita dekat dengan alam. Manusia perlu menjaga hubungan yang harmonis dengan lingkungan sebagai wujud rasa syukur atas karunia Allah,” jelasnya.
Tgk Ameer menegaskan bahwa adat dan syariat harus berjalan beriringan. Selama suatu tradisi tidak bertentangan dengan syariat Islam, adat dapat terus dilestarikan. Namun apabila terdapat unsur yang bertentangan dengan ajaran Islam, maka syariat harus menjadi pedoman utama.












