Scroll untuk baca artikel
Advertorial

Suara Ombak dalam Syair: Likok Pulo sebagai Identitas Spiritual Pesisir Aceh

0
×

Suara Ombak dalam Syair: Likok Pulo sebagai Identitas Spiritual Pesisir Aceh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Tarian Likok Pulo.

Pelan tapi pasti, suara ombak menjadi saksi perjalanan panjang Likok Pulo—sebuah seni tradisi pesisir Aceh yang lahir dari kehidupan sederhana masyarakat Pulau Aceh. Ia bukan seni yang dirancang di ruang-ruang megah atau dibingkai oleh istana, melainkan tumbuh dari jantung komunitas nelayan yang religius. Dari tempat di mana angin laut, doa, dan keteguhan hidup berpadu, Likok Pulo menemukan bentuknya. Syair-syairnya bukan hasil komposer terkenal, tetapi lahir dari hati masyarakat yang dekat dengan Tuhan sekaligus dekat dengan lautan.

Kesenian ini menyimpan dimensi spiritual yang jarang dibicarakan. Di mata masyarakat pulau, laut bukan sekadar hamparan air, tetapi ruang yang menyimpan misteri, kemurahan, bahkan potensi bencana. Laut memberi rezeki, namun juga dapat merenggut nyawa. Karena itu, hubungan nelayan dengan lautan selalu dibingkai dalam doa. Dari tradisi zikir yang diiringi irama tubuh, Likok Pulo pun lahir. Ia adalah bentuk syukur, permohonan keselamatan, sekaligus cara masyarakat memaknai hubungan mereka dengan alam dan Sang Pencipta.

Table of Contents

Gerakan tubuh dalam Likok Pulo mencerminkan dinamika lautan. Tidak pernah berlebihan, tidak pula penuh ornamen. Ia lembut, kemudian menghentak. Kadang berayun seperti riak kecil, lalu tiba-tiba mengentak kuat seperti gelombang besar yang menerjang karang. Ritme suara para pemain meningkat perlahan, lalu menyatu menjadi gema yang menggugah. Setiap gerak dan hentakan adalah simbol hubungan manusia dengan alam—bahwa hidup adalah ritme yang tak pernah datar, seperti laut yang menjadi tempat bergantung sekaligus sumber ujian.

Eksplorasi konten lain dari LiniMedia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca