“Keunikan yang kita miliki harus memiliki nilai jual bagi masyarakat dunia. Saat ini kita sedang menghadapi kemajuan yang sangat pesat, baik di bidang teknologi maupun sektor-sektor lain, salah satunya sektor ekonomi kreatif yang sangat berdampak dengan kemajuan tersebut. Subsektor kreatif dengan pertumbuhan tercepat yaitu, perfilman, animasi dan video, seni pertunjukan, desain, dan komunikasi visual,” jelasnya.
Kemajuan di sektor ini didukung dengan semakin tingginya adopsi teknologi digital di masyarkaat. Berdasarkan publikasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada tahun 2019 subsektor ekonomi kreatif menyumbang pendatan sebesar Rp1,1 triliun PDB atau setera 7,3% dari total PDB nasional, 15,7% tenaga kerja dan 11,9% ekspor.
“Artinya jika dioptimalkan sektor ini dapat membantu meningkatkan pendapatan negara. Para pelaku ekonomi kreatif semakin mudah dalam berinovasi dan memasarkan produknya. Oleh karena itu, kita harus mampu untuk berinovasi menghadirkan produk-produk khas, yang memiliki nilai jual dipasar global. Dan kita harus mendorong untuk terus menghadirkan inovasi-inovasi baru agar mampu terus bersaing di pasar global,” ujar TRH.
Disamping itu, kata dia, Komisi I DPR-Ri terus mendorong Kemkominfo untuk fokus mengembangkan program-program peningkatan, pemahaman dan wawasan anak bangsa, utama dalam menyokong perkembangan ekonomi kreatif, tentu dengan terus mengedepankan budaya dan krearifan lokal.
“Kami sadar bahwa persaingan ke depan tidaklah mudah, kita membutuhkan SDM bangsa yang handal, cakap, dan adaptif, terhadap perkembangan zaman. Tentunya, SDM unggul yang mampu bersaing di kancah global, yang nantinya mampu meningkat produktifitas bangsa dan pada akhirnya berkontibusi nyata dalam peningkatan pendapatan negara,” ungkap TRH.










