“Alhamdulillah, malam ini kita dipertemukan dalam sebuah acara yang luar biasa. Kita merayakan pencapaian para insan akademik yang telah berkontribusi besar terhadap kemajuan pendidikan tinggi di Aceh,” ujarnya.
Menurutnya, penganugerahan LLDIKTI Award bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk pengakuan atas dedikasi, komitmen, dan kerja keras individu maupun institusi dalam meningkatkan mutu pendidikan.
“Penghargaan ini bukan hanya tentang medali atau piagam, tetapi pengakuan atas usaha luar biasa para insan pendidikan yang terus berinovasi, berkreasi, dan menghadirkan dampak nyata bagi kemajuan kampus dan daerah,” katanya.
Illiza menekankan pentingnya membangun ekosistem kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri, sejalan dengan semangat Banda Aceh Kota Kolaborasi. “Kita hidup di era kolaborasi. Kemitraan strategis adalah kunci untuk menjawab tantangan dan menghadirkan solusi yang benar-benar dirasakan masyarakat.”
Sebagai contoh konkret, Wali Kota Illiza memaparkan kolaborasi Pemerintah Kota Banda Aceh dengan Universitas Syiah Kuala dalam pengembangan Banda Aceh sebagai kota parfum Indonesia, bahkan kota parfum dunia, berbasis riset dan hilirisasi komoditas nilam Aceh.
“Nilam Aceh dikenal sebagai yang terbaik di dunia sejak masa lalu. Melalui riset dan pendampingan, kita ingin memastikan potensi ini tidak hanya diekspor mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi yang berdampak langsung pada perekonomian petani dan UMKM,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan rencana keikutsertaan Banda Aceh pada Festival Parfum di Paris, Prancis, sekaligus penandatanganan kerja sama Sister City dengan Kota Grasse, kota parfum dunia. Jika terealisasi, Banda Aceh akan menjadi kota parfum kedua di dunia yang mendeklarasikan diri setelah Grasse.












