LM – oleh Wahyu Suryana, Febrian Fachri, Nawir Arsyad Akbar, Antara
Anies Baswedan menjadi bakal calon presiden (capres) pertama yang secara teori telah memenuhi syarat ambang batas pencalonan (presidential threshold) 20 persen setelah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memastikan dukungannya. Beberapa analis politik memprediksi ke depannya, akan tetap ada upaya-upaya mengganggu atau bahkan menjegal Anies sebagai capres untuk Pilpres 2024.
Pengamat komunikasi politik, M Jamiluddin Ritonga menilai, ada banyak pihak yang kecewa, terutama yang selama ini tidak menginginkan Anies Baswedan menjadi capres. “Bagi mereka, Anies itu ancaman,” kata Jamiluddin, Senin (31/1/2023).
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Esa Unggul itu melihat, sosok Anies Baswedan dianggap sebagai antikemapanan. Karenanya, mereka sangat tidak nyaman dengan semboyan perubahan yang didengungkan oleh Anies Baswedan dan diusung Koalisi Perubahan.
Selain itu, lanjut Jamiluddin, mereka diperkirakan akan terus mengintensifkan pengadangan terhadap Anies setiap sosialisasi ke daerah. Dengan cara itu, kelompok anti-Anies mau menciptakan opini jika Anies setiap ke daerah ditolak warga setempat.
Penggiringan opini semacam ini terus dilakukan untuk menghambat laju elektoral Anies. Oleh karena itu, ia menyarankan, Koalisi Perubahan harus cermati gerakan pihak-pihak yang selama ini anti Anies karena bisa saja menghalalkan segala cara.
“Termasuk, jalur hukum untuk menggagalkan Anies,” ujar Jamiluddin.
Pengamat politik dari Universitas Andalas, Najmuddin Rasul, mengatakan deklarasi PKS untuk mendukung Anies Baswedan sebagai capres semakin memantapkan Koalisi Perubahan bersama Partai Demokrat dan Partai Nasdem. Kini menurut Najmuddin, Anies sudah mengantongi syarat lengkap untuk maju di Pilpres 2024 dengan jumlah total 25,03 persen presidential theresold.












