“Itu tidak mirip saya ya, bisa dipastikan itu bukan pegawai LPSK dan bukan mbak-mbak LPSK. Mbak-mbak LPSK yang asli ini, ori,” ucap Mbak D sambil menunjuk dirinya.
Koordinator Pamwal LPSK, Ega menambahkan bukan cuma Eliezer yang mendapat pengawalan ketat saat sidang. Ia menyebut masih ada terlindung LPSK lain yang dilindungi setiap sidang, hanya saja sorotan media lebih masif terhadap Eliezer. Adapun regu Pamwal LPSK terdiri dari perempuan dan pria dengan jumlah yang dirahasiakan.
“Saat sidang kemarin kenapa sepertinya pengamanan perempuan semua ya itu yang terekspos padahal dari kami banyak diterjunkan di lokasi. Jumlahnya dan formasinya nggak perlu kami sebut tapi yang jelas kami buat dan susun titik-titik mana saja yang harus ditempatkan petugas,” ujar Ega.
Ega menceritakan pentingnya menjalin komunikasi dengan terlindung sejak awal. Lewat selangkah demi selangkah komunikasi itulah menciptakan ikatan kuat antara LPSK dengan terlindung yang membuat pengawalan berjalan mulus.
“Itu perlunya bonding (ikatan) dengan terlindung dan bagaimana membuat dia percaya dulu ke kita kalau dia mau dilindungi. Kalau dia nggak percaya ya susah juga kita atur,” sebut Ega.
Ega turut merespons tangkapan layar yang mendapati Pamwal LPSK lompat saat vonis dibacakan. Menurutnya, hal itu spontanitas semata atas vonis yang jauh lebih rendah dari tuntutan JPU.
“Itu respons kita cukup bangga akhirnya majelis hakim kabulkan JC berimbas ke hukuman Richard, ternyata perjuangan kami tidak sia-sia. Kami sebenarnya nggak expect (duga) segitu hukumannya,” ucap Ega yang juga memakai masker. (Republika.co.id)












