Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, keluarga, sekolah, tokoh agama, dan masyarakat agar setiap anak memperoleh hak yang sama untuk belajar, bermain, berkarya, serta tumbuh dalam lingkungan yang aman dan bermartabat.

“Banda Aceh ingin menjadi rumah yang nyaman bagi setiap anak. Rumah yang menghadirkan kesempatan, memberikan perlindungan, sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman, kepedulian sosial, dan semangat untuk terus berprestasi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kepedulian terhadap anak juga menjadi bagian penting dari arah pembangunan kota yang tengah dijalankan. Upaya menghadirkan layanan pendidikan yang semakin berkualitas, memperkuat layanan kesehatan, memperluas ruang publik yang layak, hingga mendorong berbagai kegiatan positif bagi anak dan remaja merupakan ikhtiar agar generasi Banda Aceh tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Bagi Afdhal, keberhasilan pembangunan tidak hanya tercermin dari capaian ekonomi maupun pembangunan fisik, tetapi juga dari senyum anak-anak yang dapat menikmati masa kecilnya dengan bahagia, memperoleh pendidikan yang layak, serta memiliki ruang untuk mengembangkan bakat dan cita-citanya.
Momentum Hari Anak Nasional, lanjutnya, menjadi ajakan bagi seluruh elemen masyarakat untuk semakin memperkuat budaya melindungi anak dari kekerasan, perundungan, eksploitasi, penyalahgunaan teknologi digital, maupun berbagai ancaman sosial lainnya. Menurutnya, anak-anak membutuhkan kehadiran orang dewasa yang bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan mereka, tetapi juga menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.












