Dijelaskannya, jika tidak punya RS yang berkapasitas besar dan memisahkan orang yang terkena Covid dari pasien yang lain, penyebaran Covid akan semakin besar, dan semakin banyak korban meninggal dunia. “Kita tidak tahu berapa banyak orang yang terselamatkan dengan Wisma Atlet. Ini sesuatu ibadah yang luar biasa bagi Erick dan mereka yang membantu mengubah Wisma Atlet menjadi RS Covid-19,” jelas ekonom senior ini.
Untuk mencegah orang dari populasi rentan menjadi populasi terinfeksi, dilakukan dengan social distancing, memakai masker. Namun yang hal krusial adalah masalah vaksin. Ini juga menjadi perhatian Erick Thohir.
Di awal pandemi, setelah vaksin mulai muncul, terjadilah nasionalisme vaksin. Negara-negara yang menghasilkan vaksin tidak mau berbagi dulu dengan negara lain. Dalam kondisi ini, kata Dradjad, Erick Thohir bersama Menteri Luar Negeri langsung mendekati China, yang mengembangkan vaksin Sinovac.
“Memang saat itu banyak pertanyaan soal kualitasnya. Tapi pada saat krisis, yang perlu dilakukan adalah langkah cepat agar vaksin tersedia dulu. Soal efektifitasnya memang penting, tapi bisa sambil berjalan,” ungkapnya.
Langkah Erick Thohir ini membuat Indonesia memiliki vaksin dalam jumlah yang cukup besar. “Erick juga bergerak cepat menemui vaksin AstraZeneca, untuk vaksin yang dianggap lebih berkualitas,” kata Dradjad.
Dengan ketersediaan vaksin, Erick mengerahkan BUMN untuk melakukan distribusi ke masyarakat. Sehingga, menurut Dradjad, banyak yang sudah tervaksinasi. “Sehingga orang lebih percaya diri, dan kalaupun tertular Covid sudah tidak separah sebelumnya,” ujar Dradjad.








