Untuk menuju target itu dipastikan tidak akan mudah sehingga PGE, kata dia, secara aktif menjalankan lima prinsip utama untuk tetap proaktif tumbuh dan sejalan menekan risiko yang memang tinggi di industri panas bumi. Kelima prinsip itu adalah fokus mengembangkan bisnis utama PGE, memanfaatkan teknologi, membangun kerja sama strategis, memanfaatkan pembiayaan berbagai model pembiayaan yang kompetitif, serta mendesain ulang keekonomian panas bumi
Namun, tambah Yuniarto, mendesain ulang keekonomian dalam industri panas bumi tidak mudah dan merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Hal ini dilakukan di antara sesama perusahaan pengembang panas bumi ataupun dengan stakeholder lainnya yaitu dengan menjadikan industri panas bumi terbangun dengan lebih solid dan stabil secara keekonomian.
Dia mencontohkan lingkungan industri yang sudah solid atau stabil sama seperti yang terjadi di industri migas.”Industri migas misalnya itu sudah terbentuk dengan solid industrinya secara nilai ekonomi,” kata Yuniarto.
Sementara itu, Presiden Direktur dan CEO Supreme Energy, Nisriyanto mengakui bahwa kemitraan adalah keharusan yang harus dilakukan di industri panas bumi. Nisriyanto juga menggarisbawahi pentingya membangun industri panas bumi yang lebih solid seperti halnya dengan industri migas.
“Memang industri panas bumi tidak sebesar migas, player-nya juga nggak sebanyak migas sehingga harus ada komitmen pemerintah untuk menggerakkan industri ini, industri tidak bergerak jauh kalau tidak dibuat secara masif. Semua industri misalkan dari sudut pengadaan misalnya casing power plant, operator yang kerjakan itu kalau selama ini kan sebagian impor,” kata dia.












