Hasilnya, SBY-Boediono mengantongi 73.874.562 suara (60,8 persen), Mega-Prabowo dapat 32.548.105 suara (26,79 persen), dan JK-Wiranto cuma 15.081.814 suara (12,41 persen). SBY-Boediono menang, sementara Mega-Prabowo dan JK-Wiranto kalah dalam ‘perang jenderal’ di Pilpres itu.
Meski kalah di kancah nasional, Megawati-Prabowo kembali berduet. Kali ini sebagai king maker di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta.
Megawati dan Prabowo mengusung pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur Jakarta. Pasangan Jokowi-Ahok mengalahkan pasangan petahana Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli yang diusung Demokrat, PAN, Hanura, PKB, PBB, PKNU dan PMB).
Renggang Akibat Perjanjian Batu Tulis
Perjanjian Batu Tulis terjadi jelang Pilpres 2009. Kala itu, PDIP-Gerindra sepakat koalisi mengusung Megawati-Prabowo. Perjanjian berisi tentang komitmen Megawati untuk mendukung Prabowo Subianto maju di Pemilu 2014.
Gerindra pun mengungkit perjanjian dengan Megawati di Pemilu 2014. Meski ditagih Gerindra, Megawati tetap pada pilihannya mengusung Jokowi berpasangan dengan Jusuf Kalla. Gerindra terus berjalan mengusung Prabowo dengan Hatta Rajasa. Pasangan Jokowi-JK menang mengalahkan pasangan Prabowo-Hatta.
Panasnya hubungan Megawati dan Prabowo belum juga mereda hingga Pemilu 2019. Megawati kembali mengusung Jokowi untuk periode kedua. Sementara Gerindra tak patah arang mengusung Prabowo menjadi Capres.
Kali ini, Prabowo berpasangan dengan Sandiaga Uno melawan Jokowi-Ma’ruf Amin. Prabowo kembali kalah dari Jokowi untuk kedua kali.












