Nilai investasi terbesar di Maluku Utara adalah sektor industri pengolahan dan pertambangan, khususnya pertambangan nikel dan emas yang tersebar di sejumlah kabupaten, seperti Halmahera Timur, Halmahera Tengah, dan Halmahera Selatan.
Salah satu perusahaan tambang yang berinvestasi di provinsi perbatasan ini adalah Harita Nikel, anak perusahaan PT Harita Group yang sejak 2016 membangun industri peleburan nikel saprolit, dan sejak 2021 telah memiliki pula pengolahan dan pemurnian nikel limonit.
Investasi di Maluku Utara diprediksi akan terus meningkat karena banyak investor dari dalam dan luar negeri yang telah menyatakan minatnya untuk berinvestasi di provinsi ini, terutama di Kabupaten Pulau Morotai.
Kabupaten Pulau Morotai banyak diminati investor, khususnya yang akan bergerak di bidang usaha perikanan dan pariwisata, karena daerah itu telah dikembangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan salah satu dari 10 daerah pengembangan pariwisata utama di Indonesia.
Maluku Utara mendapat pujian dari presiden Joko Widodo, selain karena keberhasilan mencapai pertumbuhan ekonomi 27 persen, juga karena kemampuannya dalam mengendalikan inflasi daerah di tengah naiknya harga kebutuhan pokok dan barang akibat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).
Angka inflasi di provinsi yang terkenal dengan hasil rempah ini sampai November 2022 tercatat 3,3 persen atau merupakan yang terendah dari seluruh provinsi di Indonesia, dan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada triwulan III-2022 0,47 Persen (Q-to-Q) dengan kumulatif III-2022 26,94 Persen (C-to-C).












