Penelitian tersebut juga menyoroti kesenjangan dalam kajian sebelumnya. Perpustakaan kerap ditempatkan sebagai institusi yang mengadopsi teknologi AI, sementara sejarah dan kontribusinya sebagai salah satu fondasi awal pengembangan sistem temu kembali informasi yang cerdas belum banyak mendapat perhatian.
Nazaruddin mengatakan keikutsertaannya dalam konferensi internasional menjadi kesempatan untuk memperkenalkan hasil penelitian dari Aceh kepada komunitas akademik internasional.
“Konferensi internasional bukan hanya ruang untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga kesempatan untuk membangun jejaring, bertukar gagasan, dan membawa perspektif lokal Aceh ke dalam diskursus global bidang perpustakaan dan ilmu informasi,” ujarnya. [ ]










