Iman kepada hari akhir juga erat kaitannya dengan takwa. Iman kepada hari kebangkitan akan menggerakkan manusia bersungguh-sungguh menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. “Itu esensi takwa,” ucapnya.
Kiai Suherman menggambarkan betapa hari akhir adalah peristiwa yang dahsyat. Manusia saat itu hanya mementingkan dirinya sendiri. Mereka tak peduli lagi dengan urusan keluarga terdekatnya. Tidak ada yang bisa menyelamatkan manusia pada hari itu selain rahmat dan kasih sayang Allah.
“Ketika hari kiamat, semua makhluk akan berserah diri kepada Allah SWT. Tidak ada berpegang dia (manusia) selain kepada Allah SWT,” ujarnya.
Saat itu adalah saat ketika gunung-gunung beterbangan seperti kapas, langit runtuh, dan bumi hancur. Semua orang memikirkan tentang amalnya semasa hidup. “Apakah diterima atau tidak?” sebutnya.
Gambaran kedahsyatan kiamat juga diamini Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda, Sidangkerta, Bandung Barat, Jawa Barat, KH Jajang Abdul Rosid.
Menurut dia, anak akan terpisah dari bapaknya dan tidak dapat saling menolong karena memikirkan keselamatannya sendiri. Kiai Jajang menyitir Alquran surah Luqman ayat 33:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.”(Republika.co.id)












