Temuan yang dilansir Oktober lalu itu menunjukkan, pada 2021 sebanyak 42 ribu anak-anak didiagnosis memiliki kecenderungan disforia gender. Jumlah itu melonjak tiga kali lipat ketimbang jumlah pada 2017. Sejak 2017, tercatat sedikitnya 121.882 anak usia 6-17 tahun didiagnosa mengalami disforia gender. Dan jumlah ini sangat mungkin jauh lebih sedikit ketimbang jumlah sebenarnya karena sejauh ini hanya pengguna asuransi kesehatan yang dihitung.
Jumlah anak-anak yang didukung orang tua mereka menjalani prosedur perubahan gender juga melonjak tajam. Prosedur ini biasanya dilakukan pada usia 10-11 tahun. Pengguna obat-obatan penekan pubertas pada 2021, tercatat sebanyak 1.390 anak. Pengobatan ini menekan perubahan tubuh terkait pubertas pada anak-anak. Misalnya, ia menahan pertumbuhan payudara pada perempuan serta mencegah pertumbuhan jakun pada pria.
Sementara anak-anak yang diberikan terapi hormon di AS mencapai 4.231 anak pada 2021. Jumlah ini melonjak lebih dari separuh dibandingkan 1.905 anak pada 2017. Secara total, sebanyak 14.726 anak menjalani terapi hormon di AS lima tahun belakangan.
Terapi ini dilakukan dengan menyuntikkan testosteron pada remaja yang lahir sebagai perempuan untuk menumbuhkan ciri-ciri kelaki-lakian, dan sebaliknya penyuntikan estrogen pada remaja yang lahir sebagai lelaki agar mendapat ciri-ciri feminin.












