Mereka yang Berbahasa Inggris Masih Terjebak dalam Pola Pikir Kolonialisme

abdul hadi awang. ©Reuters

LM – Presiden Partai Islam Semalaysia (PAS) Tan Sri Abdul Hadi Awang mengatakan orang Malaysia yang lebih menyukai berbahasa Inggris ketimbang Bahasa Malaysia adalah orang yang terjebak dalam pola pikir kolonialisme.

“Abaikan suara-suara orang ngawur yang mengigau itu karena mereka itu adalah orang yang masih terbuai dengan era kolonial atau mereka yang begitu bernafsu ingin menyingkirkan Bahasa Malaysia,” kata anggota parlemen Marang itu dalam pernyataannya Ahad lalu, seperti dilansir laman the Star, Minggu (2/7).

Abdul Hadi juga mengkritik warga Malaysia yang terus-terusan meremehkan Bahasa Malaysia.

“Jiwa mereka masih terjebak oleh kaum penjajah yang memperbudak mereka,” kata dia seraya menyebut banyak orang Malaysia yang lebih mengutamakan penggunaan bahasa Inggris di acara-acara tertentu.

“Iklan-iklan di pertokoan dan di pasar, juga nama kota, jalan, semua pakai bahasa Inggris meski mayoritas orang itu tidak paham bahasa Inggris,” ujar Abdul Hadi.

“Di saat yang sama mereka tidak peduli ada orang Malaysia yang tidak tahu bahasa Inggris.”

Pada 24 Mei lalu Ketua Setiausaha Negara Mohd Zuki Ali dikatakan meminta Departemen Layanan Masyarakat (JPA) untuk mempertimbangkan memberi tindakan terhadap mereka yang tidak memakai Bahasa Malaysia dalam kegiatan melayani publik.

Pada 21 Juni Ketua Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Awang Sariyan mengajukan usulan untuk menjatuhkan denda RM 50.000 atau Rp 169 juta atau dipenjara.

Awang menuturkan usulan hukuman ini akan memerlukan perubahan Undang-Undang DBP 1959 dan proses perubahan itu sudah memasuki tahap akhir sebelum diserahkan kepada Perdana Menteri Ismail Yaakob bulan depan.

Di antara pihak yang menentang hukuman itu adalah mantan Menteri Perdagangan Internasional Rafidah Aziz.

Dia mengatakan negara ASEAN lainnya kurang memahami jika pegawai negeri sipil Malaysia dipaksa memakai Bahasa Malaysia ketika berkomunikasi dengan komunitas internasional.

Baca Juga :  Divisi Propam Tegaskan Anggota Polri Harus Netral di Pemilu 2024

“Jika pola pikir sempit ini terus dipertahankan, bahkan dengan memberi hukuman karena tidak berbahasa Malaysia dalam berkomunikasi dengan dunia, maka kita akan menjadi birokratik yang dikucilkan di ASEAN,” kata dia dalam pernyataan bulan lalu.

Sementara itu G25, kelompok tokoh berpengaruh di Malaysia, mengatakan memaksakan Bahasa Malaysia bagi pegawai negeri sipil dan lembaga pemerintahan lainnya akan membuat Malaysia tertinggal.

“Meski G25 mendukung pentingnya Bahasa Malaysia sebagai bahasa persatuan di antara berbagai ras yang membentuk bangsa, tetap harus ada pengakuan akan pentingnya bahasa Inggris sebagai bahasa universal komunitas internasional dalam berbagai aspek kehidupan,” kata pernyataan G25 Mei lalu.(Merdeka.com)

Loading

Redaksi2
Author: Redaksi2