Namun Messi tetaplah manusia biasa. Semangat, mimpi, dan karakter petarung itu nyaris sirna akibat kekecewaan besar pada 2014 dan 2016. Kala itu, Messi merasakan dua kegagalan beruntun di final Piala Dunia 2014 dan Copa America 2016.
Saking kecewanya Messi sempat memutuskan gantung sepatu dari timnas Argentina. Beruntung Messi berhasil dibujuk Jorge Sampaoli untuk mengurungkan keputusannya pensiun pada Piala Dunia 2018. Sejak itu Messi seolah membangun kembali puing mimpinya yang sempat hancur berantakan.
Puing harapan dan mimpi itu akhirnya terwujud di Qatar. Selebrasi Messi mengangkat tropi Piala Dunia tak hanya menobatkan Argentina sebagai kampiun. Lebih dari itu momen itu menjadi penahbisan seorang Messi. Tak ada lagi perdebatan soal siapakah yang layak menjadi GOAT, alias the greatest all time. Dengan kesuksesan Messi memenagi seluruh trofi, dia pun kini menjadi abadi.
Ibarat seni, tubuh Messi boleh berhenti belari, tapi tinta emas perjalan kariernya di sepak bola bakal melegenda. Layaknya kata yang yang disampaikan pelukis abad pertengahan, Leonardo Da Vinci. “Keindahan fisik memang akan lenyap, tapi keindahan seni akan abadi.” Keindahan Lionel Messi.(Republika.co.id)












