“Kami akan terus menekan Israel untuk meninjau dengan cermat kebijakan dan praktiknya tentang aturan operasi (militer), mempertimbangkan langkah-langkah tambahan untuk mengurangi risiko kerugian sipil, melindungi jurnalis, dan mencegah tragedi serupa di masa depan,” kata Wakil juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Vedant Patel.
Israel telah melakukan serangan malam di wilayah pendudukan Tepi Barat, menyusul serangkaian serangan mematikan oleh warga Palestina musim semi lalu yang menewaskan 19 orang.
Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina, setidaknya 90 warga Palestina telah tewas oleh tembakan Israel tahun ini, dan menjadi tahun paling mematikan di wilayah pendudukan Tepi Barat sejak 2016.
Israel mengatakan, militernya memerangi kelompok bersenjata yang menargetkan warga sipil dan harus membuat keputusan sepersekian detik di medan perang. Aturan keterlibatan militer memungkinkan tentara di lapangan untuk melepaskan tembakan, ketika mereka merasa dalam bahaya.
Kelompok hak asasi Israel mengatakan, tentara menafsirkan aturan itu secara luas. Mereka sering menggunakan kekuatan berlebihan dan jarang dimintai pertanggungjawaban ketika mereka menembak warga sipil.
Sementara Palestina mengatakan, serangan itu bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan militer Israel selama 55 tahun atas wilayah yang mereka inginkan untuk negara masa depan.(Republika.co.id).












