“Jadi, tidak perlu dibesar-besarkan dan membangun narasi yang tidak proporsional sama sekali,” ujarnya.
Dia menambahkan, jika dari peristiwa tersebut dimunculkan isu ISIS dibalik tindakan itu, maka narasi tersebut sudah kadaluwarsa. Kemudian yang membuatnya tergelitik, peristiwa tersebut momentumnya bertepatan pasca- kepala KSP Moeldoko bicara soal ancaman radikalisme dan di pulau Bali jelang agenda G-20.
Sementara di sisi lain, realita yang sedang terjadi, Indonesia dihadapkan ancaman-ancaman yang lebih serius baik aspek keamanan (teroris separatis OPM), hukum (aparat penegak hukum yang hancur integritasnya), maupun ekonomi (ancaman resesi). “Dan itu semua lebih aktual dibanding kasus wanita yang melintas (sekali lagi; bukan menerobos) arah ring 1 kawasan istana merdeka dengan tujuan yang tidak jelas. Mari, kita waras mengeja realita,” ungkapnya. (Republika.com)












