Scroll untuk baca artikel
Nasional

Pengamat Teroris Nilai Perempuan Berpistol Terobos Istana Narasi Lebay

63
×

Pengamat Teroris Nilai Perempuan Berpistol Terobos Istana Narasi Lebay

Sebarkan artikel ini
Wanita berpistol. (Ilustrasi)

 

“Dari gesturenya, itu sosok pribadi yang punya problem kejiwaan. Perlu pemeriksaan psikologisnya. Bisa saja dia ‘mainan’ atau seperti dijadikan ‘alat simulasi’ oleh pihak tertentu terkait dengan isu keamanan,” kata Harits dalam kepada wartawan, Rabu (26/10).Menurutnya, tindakan yang dilakukan perempuan tersebut bukanlah ancaman yang serius. Apalagi, perempuan tersebut hanya membawa pistol rakitan yang tidak diketahui amunisinya bisa ditembakkan atau tidak.

Table of Contents

“Jadi, tidak perlu dibesar-besarkan dan membangun narasi yang tidak proporsional sama sekali,” ujarnya.

Dia menambahkan, jika dari peristiwa tersebut dimunculkan isu ISIS dibalik tindakan itu, maka narasi tersebut sudah kadaluwarsa. Kemudian yang membuatnya tergelitik, peristiwa tersebut momentumnya bertepatan pasca- kepala KSP Moeldoko bicara soal ancaman radikalisme dan di pulau Bali jelang agenda G-20.

Sementara di sisi lain, realita yang sedang terjadi, Indonesia dihadapkan ancaman-ancaman yang lebih serius baik aspek keamanan (teroris separatis OPM), hukum (aparat penegak hukum yang hancur integritasnya), maupun ekonomi (ancaman resesi). “Dan itu semua lebih aktual dibanding kasus wanita yang melintas (sekali lagi; bukan menerobos) arah ring 1 kawasan istana merdeka dengan tujuan yang tidak jelas. Mari, kita waras mengeja realita,” ungkapnya. (Republika.com)

Eksplorasi konten lain dari LiniMedia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca