Scroll untuk baca artikel
Nasional

Ramai-ramai Menjaga Kesehatan Laut

114
×

Ramai-ramai Menjaga Kesehatan Laut

Sebarkan artikel ini
Persiapan tanam mangrove dalam kegiatan Aksi Muda Jaga Iklim 2022

LM, Suatu petang di Muara Gembong, Bekasi. Air laut mulai merendam Muara Gembong. “Sebatas betis,” ujar Yolanda Parede menjawab Republika pada Oktober 2022, mengenai hal yang memicu dirinya aktif di kegiatan lingkungan.

Kata Yolanda, Muara Gembong yang berada di pesisir utara Bekasi itu hanya empat jam dari Jakarta Pusat menggunakan mobil. Hanya satu jam jika dijangkau dari Cilincing, Jakarta Utara. Tapi, jauh dari ingar-bingar metropolitan.

Table of Contents

Dari warga di Muara Gembong, alumnus Bahasa Inggris Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung 2013 itu mendapatkan cerita miris. Kampung itu menjadi “penampung” berbagai sampah yang dibawa arus Sungai Citarum. Mayat tak dikenal pun sering berujung di Muara Gembong. Entah dibuang di daerah mana, mayat itu terbawa arus Ciliwung yang bermuara di Muara Gembong.

Yolanda meyakini, Muara Gembong tentu tidak sendirian. Tentu ada banyak daerah yang mengalami kerusakan lingkungan serupa. Ia pernah 1,5 tahun bergabung menjadi relawan di Pandu Laut Nusantara yang dicanangkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Ia kini menjadi koordinator nasional Penjaga Laut, organisasi yang dibentuk oleh eks relawan Pandu Laut di berbagai daerah.

Sampah yang terbawa arus sungai hingga masuk laut, tentu saja akan membuat laut tidak sehat. Demikian juga kampung-kampung di pesisir, juga menerima dampak. Kondisi itu semakin buruk jika hutan mangrove di pantai juga telah mengalami kerusakan. Iklim yang terkena dampaknya. “Kita di kota hanya merasakan cuaca yang sangat panas dan musim yang tidak menentu, tapi di desa-desa, petani gagal panen, nelayan sedikit dapat ikan, itu pun kecil-kecil,” kata Yolanda.

Eksplorasi konten lain dari LiniMedia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca