Peningkatan jumlah sampah plastik itu dijadikan salah satu referensi oleh Direktur Eksekutif Divers Clean Action (DCA), Swietenia Puspa Lestari, dalam memotret keadaan sampah selama pandemi Covid-19. Menurut dia, selain sampah plastik, sampah medis alias sampah infeksius, seperti bekas masker sekali pakai dan sarung tangan juga cenderung meningkat jumlahnya selama pandemi Covid-19.
“Sampah medis, seperti sampah bekas masker sekali pakai, bekas sarung tangan, dan segala macam yang ditemukan di sungai, di pinggir pantai, karena memang penggunaan nya saat pandemi itu meningkat,” ujar Swietenia kepada Republika.
Sampah-sampah dengan jenis tersebut mendominasi sampah-sampah yang ada di laut, sungai, ataupun yang lainnya selama pandemi. Secara umum, jumlah sampah di per kotaan justru menurun, sebab selama pan demi pekerja yang tinggal di kota penyangga tidak bekerja di kantor yang ada di kota.
Di lokasi wisata pun sampah menurun, tinggal sampah dari rumah tangga di lokasi wisata itu. Terkait sampah di laut, menurut Swietenia, masih tetap ada sampah kiriman sesuai musim. Dia mengambil contoh di perairan Derawan, Kalimantan Timur. Sampah bertuliskan merek asal Filipina, Thailand, Malaysia, Singapura, dan yang lainnya bisa terlihat di sana selain memang ada sampah yang ber asal dari daerah itu sendiri. Sampah kiriman juga bergantung pada musim yang menentukan arah angin.
Swietenia menyampaikan, pada tahun pertama pandemi sudah tentu sangat memengaruhi pekerjaan yang ia lakukan bersama dengan teman-teman serta relawan DCA. Kalaupun ada kegiatan, itu hanya di area-area yang diperbolehkan oleh pemerintah dan jumlah pesertanya dibatasi. Dia memberikan contoh, biasanya dalam satu kegiatan diskusi atau pelatihan bisa dilakukan 50 orang. Dengan pembatasan ini, jumlahnya dikurangi, hanya menjadi 20 orang dan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat.












