Jika kaum Muslimin memakinya maka akibatnya mereka akan memaki Allah pula dengan melampaui batas atau secara tergesa-gesa tanpa berpikir dan tanpa pengetahuan. Apa yang dapat mereka lakukan dari cacian itu sama dengan apa yang telah dilakukan kaum musyrikin yang lain sepanjang masa.
“Karena demikianlah Kami memperindah bagi setiap umat amal buruk mereka akibat keburukan budi mereka dan akibat godaan setan terhadap mereka,” katanya.
Waspada Provokasi
Sudah barang tentu mereka yang memeluk mazhab Islamofobia mengharapkan adanya amarah terbakar dari umat Islam. Osama Al Sharif mencontohkan, kasus surat kabar Denmark, Jyllands-Posten, yang menerbitkan kartun hinaan dengan menggambarkan Nabi Muhammad (SAW) pada 2005, yang juga dilakukan majalah Charlie Hebdo di Prancis pada tahun 2012. Kedua kasus tersebut menimbulkan pembalasan, yang dalam kasus Charlie Hebdo berujung pada kematian.
“Politisi Barat dengan mudah mengeklaim bahwa membakar Alquran atau mencemooh Nabi tidak dapat dilarang karena akan melanggar prinsip-prinsip demokrasi. Tapi, masalahnya jauh lebih rumit dari itu,” ucap dia dalam artikelnya di Gulf News, Ahad (29/1).
Osama menambahkan, mereka yang mencari ketenaran dengan menyerang keyakinan miliaran orang hanya akan mendapatkan ketenaran. Mereka tidak meremehkan Islam atau mengurangi pengaruhnya di seluruh bangsa. Hak umat Islam untuk mengungkapkan kemarahan dan kejijikan pada tindakan seperti itu, tetapi protes mereka tidak boleh mengarah pada hasutan.
Osama Al Sharif menyebut perdebatan tentang kebebasan berbicara harus terus berlanjut dan tidak boleh dimulai hanya ketika ada seorang fanatik menghina Muslim dan keyakinan mereka. Kenyataannya, ada batasan untuk kebebasan berbicara di Barat. Namun, ketika isu penghinaan terhadap Islam diangkat, para politisi mengatakan mereka tidak bisa berbuat apa-apa.(Republika.co.id)












