Usai pelantikan, Illiza menyampaikan harapannya agar kepengurusan baru KTR mampu menjadi motor penggerak sinergi yang lebih kuat antarwarga Aceh di Malang. Ia menutup dengan dorongan moral yang menggugah:
“Saya percaya, dengan kekompakan dan semangat kebersamaan, KTR Malang Raya akan mampu menjadi teladan dalam menjaga nama baik daerah, serta memperluas jejaring sosial dan budaya yang saling menguatkan.”
Sementara Ketua KTR Malang Raya yang baru saja dilantik, Salahuddin Salam, menyampaikan bahwa terdapat sekitar 300 warga Aceh yang saat ini menetap di Malang, dengan sekitar 40 persen di antaranya merupakan pelajar dan mahasiswa. Kepengurusan kali ini langsung tancap gas dengan mengusung program prioritas renovasi tiga asrama mahasiswa: Cut Meutia, Cik Ditiro, dan Pocut Baren.
Menurut Salahuddin, Pemerintah Aceh telah mengalokasikan dana sebesar Rp800 juta untuk mendukung program renovasi tersebut. Ia menegaskan bahwa KTR bukan hanya organisasi seremonial, tetapi wadah yang berfungsi nyata bagi kebutuhan komunitas.
“Fokus kami adalah mempererat ukhuwah dan silaturahmi melalui kegiatan sosial, keagamaan, hingga pendampingan wirausaha. Mayoritas warga Aceh di sini memiliki latar belakang usaha di bidang kuliner, dan kita ingin membangun kekuatan ekonomi berbasis kebersamaan,” jelasnya saat ditemui usai pelantikan.
Selain Wali Kota Banda Aceh, acara ini juga dihadiri perwakilan dari Pemerintah Kota Malang melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), serta Dewan Pembina KTR, Amalia Marzuki. Kegiatan ditutup dengan tausiah oleh Ustaz Lukman Hakim yang menyampaikan pesan moral dan spiritual seputar pentingnya menjaga ukhuwah dalam kehidupan bermasyarakat.***












