Dewsbury New Muslims nama kelompoknya, memberikan nasihat dan dukungan yang praktis dan nyata kepada para mualaf, khususnya dalam menghadapi kesulitan yang dihadapi anggota keluarga. Dewsbury New Muslims bukanlah sebuah masjid, melainkan ini adalah lingkungan yang netral.
“Setiap masjid memiliki persuasi dan mazhab masing-masing. Kami menjaga lingkungan yang netral di mana para mualaf dapat fokus pada spiritualitas mereka,” kata dia.
Lynas menyayangkan komentar Muslim sejak lahir terhadap mualaf. Bahwa mualaf yang masih membutuhkan bimbingan Muslim lainnya adalah mereka yang tidak siap untuk pindah keyakinan.
“Sebagian orang bisa memandang rendah kami. Saya pikir para mualaf harus lebih toleran. Muslim harus menjadi duta sejati agama mereka sehingga mualaf dapat memahami Islam dalam esensi sejati,” ujar dia.
Bukan berarti menjadi muslim harus berasal dari negara mayoritas Muslim seperti Arab, Pakistan, India atau Malaysia.
“Ketika Anda menjadi seorang Muslim, tidak ada yang mencoba memberitahu Anda untuk menjadi orang Arab, Pakistan, India, atau Malaysia,” ujar dia.
Setiap budaya memiliki kelebihan masing-masing yang dibawanya ke dalam Islam. Dawud mengatakan bahwa tantangan yang dia hadapi sebagai seorang muslim mendorongnya untuk meluncurkan Dewsbury New Muslims, sebuah jaringan pendukung bagi mualaf baru.
Awalnya didirikan di Al Huda Zawiya Center di Dewsbury pada 2010 dengan model yang sama diluncurkan di Manchester. “Saya telah melihat hingga 70 mualaf selama waktu itu. Saya ingin membantu para mualaf hari ini agar mereka tidak dikucilkan,”ujar dia. (Republika.co.id)












