LM – Beberapa pekan terakhir, Amerika Serikat (AS) dan sekutu Baratnya telah meningkatkan pengumpulan data intelijen dan pengawasan kepada Rusia karena khawatir jika Rusia akan menggunakan nuklirnya melawan Ukraina.
Dikutip dari laman Russia Today, (29/9), situs berita Politico melaporkan negara-negara Barat khawatir kalau mereka “terlambat” mendeteksi Rusia “melepaskan yang tak terpikirkan”, yaitu senjata nuklir.
Peningkatan aktivitas intelijen dilakukan sepekan setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin mengungkap dia akan menggunakan cara apa pun untuk mempertahankan Rusia.
“Jika integritas teritorial bangsa kita terancam, kita pasti akan menggunakan semua cara yang kita miliki untuk membela Rusia dan rakyat kita. Ini bukan gertakan,” jelas Putin.
Alasan Putin mengatakan itu karena dia mendapat laporan beberapa pejabat tinggi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) membenarkan penggunaan senjata nuklir melawan Rusia.
Namun perkataan Putin dianggap media-media dan politisi-politisi Barat sebagai ancaman Rusia untuk menggunakan senjata nuklirnya di tengah konfliknya dengan Ukraina.
“Kami mengawasinya (Rusia) lebih dekat. Akses ke intelijen tentang kekuatan dan strategi nuklir Moskow,” jelas salah seorang pejabat AS kepada Politico.
Pejabat itu juga mengungkap AS dan sekutunya memonitor seluruh pergerakan Rusia lewat udara, luar angkasa, dan dunia maya. Satelit-satelit pun digunakan Barat untuk mengawasi tentara Rusia di Ukraina yang berpotensi menerima perintah serangan nuklir dari Moskow.












