Ayu juga meminta kepada kepala dinas pendidikan agar segera mengintegrasikan program ini di masing-masing daerah, sambil meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan PAUD dan SD sesuai dengan yang telah diselenggarakan oleh Direktorat PAUD. Dengan demikian, pelaksanaan program transisi yang menyenangkan ini dapat mencapai hasil yang diharapkan. Ayu juga menekankan pentingnya implementasi enam kemampuan dasar anak secara efektif di setiap wilayah.
Enam kemampuan dasar anak yang ditekankan dalam program ini meliputi: mengenal nilai agama dan budi pekerti, keterampilan sosial dan bahasa, kematangan emosi, kematangan kognitif untuk kegiatan belajar, keterampilan motorik dan perawatan diri, serta pemahaman tentang belajar yang menyenangkan dan positif.
Ayu juga menekankan kepada kepala dinas pendidikan kabupaten/kota untuk menyediakan Alat Permainan Edukasi (APE) di kelas awal SD, sehingga proses pembelajaran di kelas tersebut masih mencerminkan kondisi pembelajaran di taman kanak-kanak. Hal ini bertujuan agar peserta didik merasa benar-benar senang ketika belajar di SD/MI, dan tidak menganggap pembelajaran sebagai hal yang menakutkan.
Direktur PAUD Kemdikbudristek RI, Komalasari, menyatakan bahwa program transisi PAUD/RA ke SD/MI yang menyenangkan ini bertujuan untuk mengoreksi kesalahpahaman yang masih kuat di masyarakat terkait pentingnya calistung dalam pendidikan anak usia dini dan SD.
“Saat ini, fokus pembelajaran di PAUD terlalu didominasi oleh calistung. Calistung dianggap sebagai satu-satunya indikator keberhasilan belajar yang bisa dibangun secara instan, dan tes calistung masih digunakan sebagai syarat masuk SD,” jelas Komalasari.












