Pada Maret 1954, Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Myanmar Walter Eytan, menulis surat kepada Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Moshe Dayan. Dalam surat tersebut, Eytan, mengatakan bahwa, Myanmar adalah teman setia Israel di Asia. Menurutnya, hubungan antara tentara Israel dan tentara Burma bisa menjadi sangat vital dan diplomatis.
“Dengan keadaan hubungan antara Israel dan Burma saat ini, sebenarnya tidak mungkin untuk menolak permintaan Tentara Burma,” ujar Eytan, dalam suratnya.
Kesepakatan pertahanan antara kedua rezim tersebut terdiri dari 30 pesawat tempur, ratusan ribu butir amunisi, 1.500 bom napalm, 30.000 barel senapan, ribuan mortir dan perlengkapan militer lainnya, mulai dari tenda pramuka hingga perlengkapan terjun payung.
Selain itu, puluhan ahli Israel dikirim ke Myanmar untuk misi pelatihan. Sementara perwira militer Myanmar datang ke Israel untuk instruksi komprehensif tentang pangkalan IDF. Israel juga mendirikan perusahaan pelayaran, pertanian, pariwisata dan konstruksi di Myanmar
Selain itu, orang Myanmar terinspirasi untuk mengikuti jejak Israel dalam invasi dan perampasan tanah. Oleh karena itu, militer Myanmar juga mendirikan pangkalan militer di wilayah yang dihuni oleh etnis minoritas.
“Kami tertarik untuk membangun hubungan antara Mossad kami dan Mossad Burma,” tulis Kalman Anner, Direktur Asia Desk pada Januari 1982, setelah rezim Israel melihat pembersihan etnis orang-orang Rohingya sebagai peluang.
Menurut laporan oleh Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh pasukan Negara Myanmar. Sementara lebih dari 34.000 orang Rohingya dilemparkan ke dalam api, lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, serta sebanyak 18.000 perempuan dan anak perempuan diperkosa. Lebih dari 115.000 rumah dibakar.












