Sementara itu, General Manager J&T Riau Supriyanto saat dihubungi merdeka.com membenarkan kejadian tersebut. Menurut Supriyanto, massa yang datang melakukan aksi adalah serikat kerja.
“Kejadian malam itu bukanlah yang pertama. Masalah bermula ketika serikat pekerja meminta pekerjaan bongkar muat barang. Sudah pernah mediasi yang ditengahi Polresta Pekanbaru, tapi tidak ada kata sepakat, makanya mereka datang lagi tadi malam,” ucap Supri.
Menurut Supri, permintaan massa tidak sesuai dengan hitungan bisnis. Sebab massa meminta setoran uang Rp15 juta perbulan untuk urusan bongkar muat.
“Besar sekali, kami tidak sanggup dan tidak sepakat. Lalu kami menawarkan solusi dengan mempersilakan anggota serikat pekerja bergabung tapi mereka menolak,” jelasnya.
Supri menjelaskan, pada dasarnya mereka tidak butuh tambahan pekerja. Karena karyawannya J&T sudah cukup untuk melakukan bongkar muat.
“Saya tawarkan juga, bagaimana kalau kami bayar Rp1 juta setiap bulan tanpa bekerja, mereka juga tidak mau,” keluhnya.
Selain itu, kata Supri, barang-barang yang diturunkan dari mobil ekspedisi juga tidak berat. Barang itu menurutnya milik konsumen yang bahkan beratnya lebih banyak di bawah 1 kilogram.
“Dalam bongkar ini butuh perlakuan khusus, karena banyak barang pesanan konsumen yang rentan. Kemudian ada proses sortir, hingga yang harus mengerjakan adalah karyawan. Makanya kami tawarkan kami siap menerima karyawan dari serikat, tapi mereka menolak,” kata Supri.
Supri tidak menampik karyawannya yang menjadi korban aksi tersebut melapor ke polisi. Selain karyawan, akibat insiden tersebut, beberapa kendaraan ekspedisi dan barang konsumen dari perusahaan tersebut juga mengalami kerusakan.












