Beberapa kegiatan relawan juga harus di batasi. Sebelum pandemic, DCA melakukan kegiatan diving clean up bersama para relawan hampir satu bulan sekali dengan kegiatan ecotourism. Ini merupakan paket yang ditawarkan kepada relawan untuk berkunjung ke daerah binaan DCA di Pulau Seribu. Di sana, relawan dapat berlibur sembari belajar masalah sampah dan bisa turut serta berpartisipasi, mendukung pengelolaan sampah yang ada di pulau tersebut.
“Ketika pandemi sudah hampir delapan-sembilan bulan, kita sudah melakukan beberapa kali percobaan kegiatan,” kata Swietenia yang pada awal 2020 dinobatkan oleh Republika sebagai ‘Tokoh Muda Inspiratif’ itu. Di Kepulauan Seribu, program pengelolaan sampah itu tetap dijalankan. “Kita pastikan, jangan sampai sampah-sampah yang sudah di-kumpulin bank sampah itu tidak terkirim dan tidak terdaur ulang,” kata Swietenia.
Saat ini, pusat daur ulang yang bisa mengolah sampah plastik ada di Surabaya dan Tangerang. Di daerah lain, seperti Papua, Kalimantan, dan Sulawesi kalaupun ada pengelolaan sampahnya itu hanya sampai cacahan plastik atau pengompresan. Karena itu, mereka harus mengirim sampah-sampah itu lewat transportasi laut yang harganya meningkat.
DCA juga melakukan sejumlah upaya untuk mengatasi tantangan-tantangan yang ada. Swietenia mengungkapkan, DCA mencoba memberikan subsidi atau upaya lainnya agar sampah-sampah yang sudah terkumpul di daerah tersebut dapat tetap terdaur ulang.
Pandemi di satu sisi memang membawa berkah bagi keselahatn laut. Di perairan Gili Terawangan dan sekitarnya di Nusa Tenggara Barat (NTB), menurut pendiri Gili Eco Trust Delphine Robbe, kondisinya lebih sehat bagi ikan dan terumbu karang, karena tidak ada polusi dari kapal pelancong, seperti polusi minyak dan gangguan suara. “Terumbu karang di sekeliling Gili Terawangan, ikan, semuanya lebih banyak dan tumbuh lebih cepat daripada dulu, karena tidak ada polusi atau tekanan dari wisata,” kata Delphine kepada Republika.












