Scroll untuk baca artikel
Nasional

Sindiran dan Kritik Effendi Simbolon Tak Memandang Nama Besar Tokoh

138
×

Sindiran dan Kritik Effendi Simbolon Tak Memandang Nama Besar Tokoh

Sebarkan artikel ini
Effendi Simbolon jenguk Emir Moeis. ©2013 Merdeka.com/dwi narwoko

2. Protes Kenaikan Harga BBM, Minta Jokowi Naik Bajaj

Ketua DPP PDIP Effendi Simbolon pernah geram dengan Presiden Jokowi karena menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Menurutnya, Jokowi tega menyengsarakan rakyat kecil dengan menaikkan harga BBM.

Pemerintah memutuskan menaikkan harga BBM pada 18 November 2014. Premium dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500 per liter. Sedangkan BBM bersubsidi jenis solar dijual Rp 7.500 per liter atau naik Rp 2.000 dari sebelumnya Rp 5.500 per liter.

“Kok bisa tega gitu loh. Katanya dia dari KPU naik Bajaj tunjukkan energi murah. Mana? Tukang Bajajnya sekarang mau bunuh diri frustasi karena malu,” kata Effendi di Gedung DPR Jakarta.

Dia menyarankan sebaiknya Jokowi tidak menghapus seluruh subsidi BBM. Sebab, subsidi BBM sangat diperlukan.

“Masa biarkan rakyat konsumsi harga pasar. Memangnya Indonesia anut paham liberal, subsidi wajib dong. Sepanjang komoditi itu strategis dan daya beli yang belum bisa,” ujarnya.

3. Kritik Menteri-Menteri Jokowi

Masih terkait isu kenaikan harga BBM 2014 lalu, Effendi memprotes keras dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Dia sendiri merasa heran dan tidak tahu mengapa Wapres Jusuf Kalla (JK) ngotot ingin menaikkan harga BBM. Dia malah mengkritik Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri ESDM Sudirman Said yang disebut menganut paham liberal.

“Saya tidak tahu (alasan JK menaikkan BBM), dan mendengar Sudirman Said, Rini itukan orang Pak JK. Tidak ada unsur PDIP. Mazhabnya itu aliran liberal menempatkan komoditas subsidi jadi pasar bebas,” kata Effendi di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (5/11).

Baca Juga :  Pelatih PSIS: Akhirnya, Saya Sangat Bahagia

Effendi menegaskan, PDIP belum mau menerima sikap pemerintah yang ingin menaikkan harga BBM. Hal ini akan terus terjadi sebelum pemerintah benar-benar memberikan alasan yang kuat untuk menaikkan BBM.

“Yang pasti sampai akhir keputusan akan bersikap seperti ini. Sebelum pemerintah belum memberikan bukti konkret penanganan di sektor energi. Karena saya hampir 10 tahun di Komisi VII yang merupakan kealpaan yang disengaja oleh negara dan membuat ketergantungan kita terhadap impor dan BBM berbasis fosil. Ini kealpaan yang saya tentang,” tegas Effendi.

Eksplorasi konten lain dari LiniMedia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca