Seorang pejabat AS mengatakan, serangan terhadap Zawahiri akan sulit untuk ditiru di seluruh Afghanistan tanpa jaringan intelijen yang dibentuk selama 20 tahun kehadiran AS.
“Ini adalah model serangan,” kata seorang analis kontraterorisme yang berbasis di Washington yang berfokus pada perang drone, Neha Ansari.
Ansari mengatakan, operasi itu membutuhkan koordinasi intelijen yang baik. Termasuk kemungkinan beberapa negara memberikan izin kepada Amerika Serikat untuk menerbangkan drone melalui wilayah udara mereka, dan lokasi yang tepat.
Sebuah ilustrasi tentang sulitnya pengumpulan intelijen di Afghanistan terjadi pada 2015 ketika ribuan pasukan pimpinan AS berada di lapangan. Saat itu, para pejabat militer AS terkejut karena menemukan sebuah kamp pelatihan besar-besaran Alqaeda di provinsi Kandahar selatan.
Penggunaan pesawat tak berawak CIA untuk menyerang Zawahiri menunjukkan perjanjian penerbangan rahasia dengan negara tetangga. CIA menolak memberikan penjelasan lebih lanjut tentang operasi tersebut.
Kehadiran Zawahiri di Kabul menimbulkan pertanyaan tentang keberadaan kelompok militan di bawah kekuasaan Taliban. Serangan itu menunjukkan bahwa ada celah dalam kesepakatan penarikan pasukan asing yang ditandatangani Amerika Serikat dengan Taliban. Dalam kesepakatan itu, Alqaeda dan kelompok militan lainnya dibolehkan tetap berada di Afghanistan selama mereka tidak melatih, menggalang dana, atau merencanakan serangan.
Akhir tahun lalu, komunitas intelijen AS menilai bahwa kelompok militan lokal yang berafiliasi dengan ISIS, yang dikenal sebagai ISIS-K memiliki kemampuan untuk menyerang Amerika Serikat enam bulan setelah penarikan pasukan asing. Sebelum penarikan pasukan AS tahun lalu, para pemimpin tinggi militer AS mengatakan kelompok-kelompok militan seperti Alqaeda dapat menimbulkan ancaman dari Afghanistan ke tanah air AS dan sekutu Amerika pada 2023.
Sebuah laporan PBB tahun lalu mengatakan, sebanyak 500 pejuang Alqaeda berada di Afghanistan, dan Taliban mempertahankan hubungan dekat dengan kelompok ekstremis tersebut.
Seorang pejabat militer AS mengatakan, Zawahiri telah menjadi tokoh utama Alqaeda dalam beberapa tahun terakhir. Masih ada kekhawatiran bahaa kelompok itu dapat tumbuh karena Taliban memberi mereka tempat berlindung yang aman. Mantan perwira senior operasi rahasia CIA, Daniel Hoffman, mengatakan, kehadiran Zawahiri dan militan Alqaeda lainnya di Afghanistan harus diwaspadai.
“Afghanistan adalah bahaya yang jelas, dan itu tidak pernah lebih berbahaya bagi Amerika Serikat,” kata Hoffman.(Republika.co.id)












