LM – Dalam upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pemilihan umum (pemilu), Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh Besar menggelar sosialisasi pemilu di Aula Kantor Camat Lhoong. Acara ini dihadiri oleh sekitar 140 perwakilan dari masing-masing gampong di Kecamatan Lhoong. Sabtu, 4 November 2023.
Sosialisasi ini menjadi platform penting bagi pemilih pemula dan pemilih perempuan, yang seringkali belum terlalu familiar dengan proses pemilu. Pemerintah, melalui perwakilannya, menjelaskan peran pentingnya dalam menjalankan pemilu yang sesuai dengan aturan yang berlaku.
Sofian, SH, dari Kesbangpol Aceh Besar, menyoroti Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 yang mengatur pemilu sebagai sarana kedaulatan rakyat untuk memilih anggota DPRK, DPRA, DPD, dan DPR RI, termasuk pemilihan presiden dan wakil presiden. Dia menegaskan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab yang sama pentingnya dengan Komisi Pemilihan Umum (KIP), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).
Sofian juga menyoroti pentingnya partisipasi pemilih pemula dan pemilih perempuan dalam pemilu. Menurutnya, peran aktif dari kelompok ini sangat mempengaruhi kesuksesan pemilu, dan perempuan harus turut serta dalam menentukan arah kebijakan dan pembangunan negara. Dia menegaskan bahwa golput bukanlah solusi, dan perempuan dan pemilih pemula harus menjadi pengawas pemilu yang adil serta memberikan suara mereka demi kemajuan bangsa.
Dalam konteks netralitas TNI pada pemilu, Kapten Inf Sumastono, Pgs Pasie Intel Kodim 0101/KBA, menjelaskan bahwa TNI tidak mendukung partai politik manapun atau pasangan calon tertentu. TNI juga tidak terlibat dalam politik praktis dan tidak memberikan fasilitas milik TNI kepada paslon dan partai politik untuk kampanye. Dia menekankan bahwa anggota TNI yang memiliki hak pilih tidak boleh dipengaruhi dalam menentukan pilihan mereka.
Anggota Panwaslih Aceh Besar, Safriadi Ibrahim, SH, juga menyoroti peran penting kaum milenial dalam memperkuat demokrasi. Dengan sebagian besar penduduk Indonesia terdiri dari milenial, mereka memiliki potensi besar dalam memantau jalannya pemilu dengan keahlian teknologi mereka. Safriadi mengingatkan bahwa kaum milenial adalah harapan untuk membangun Indonesia ke depan.
Dengan pemahaman yang ditingkatkan melalui sosialisasi ini, diharapkan masyarakat, terutama pemilih pemula dan perempuan, akan lebih aktif dan berperan dalam pemilu, yang pada gilirannya akan memperkuat demokrasi dan kualitas pemilihan umum di Aceh Besar.[red]












