Sebagai gambaran, kebanyakan pengungsi Rohingya di Bangladesh sudah melarikan diri dari Rakhine di Myanmar sejak 2017. Sudah sekitar enam tahun mereka berada di pengungsian di Cox’s Bazar dengan tenda dari bambu dan terpal, kerap dilanda banjir dan kebakaran. Tak ada sistem sanitasi yang memadai, tak ada cara mencari penghasilan, juga tak ada pendidikan.
Menurut Waliullah, sekitar 1,5 juta hingga 2 juta pengungsi memenuhi Cox’s Bazar. Meski secara resmi, jumlah pengungsi di Cox’s Bazar tercatat pada angka 890 ribu jiwa. Dengan angka resmi itu pun, Cox’s Bazar saat ini adalah klaster pengungsian terbesar di dunia.
Sejak 2020, sekitar 20 ribu dipindahkan ke sebuah pulau kosong bernama Bhasan Char. Meski para pengungsi dibangunkan perumahan, fasilitas lainnya minim. Akibatnya terjadi kekurangan pangan dan kelangkaan air bersih. Tak ada juga pekerjaan dan sekolah di lokasi itu. Para pengungsi kerap merasa dipenjara.
Kondisi di pengungsian yang demikian padat dan sengsara, kata Waliullah, kemudian memicu juga konflik di antara para pengungsi. Salah paham sedikit saja bisa berujung kekerasan antarkelompok. Hal itu makin mendorong etnis Rohingya nekat mengarungi lautan dengan harapan tempat yang lebih baik.
Sejak lama, para pengungsi juga menuntut kembali ke kampung halaman mereka di Rakhine, Myanmar. Pada pertengahan 2022 lalu, ribuan berunjuk rasa dalam aksi meminta hak pulang tersebut. Kendati demikian, program repatriasi sejauh ini terhambat keengganan Pemerintah Myanmar menjamin kewarganegaraan dan keamanan etnis Muslim Rohingya.












