LM – OLEH FERGI NADIRASedikit-sedikit, Achmad Syukur (45 tahun) sudah bisa bicara bahasa Indonesia. Terbata-bata, ia mengisahkan perjalanannya terombang-ambing di lautan selama sebulan lebih.
“Satu ratus, 90 orang,” ujar dia mengenai rombongan pengungsi Muslim Rohingya yang berhasil selamat tiba di Pantai Ujong Pie, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh, pada Senin, 26 Desember 2022. Ia salah satu dari rombongan tersebut.
Achmad Syukur melarikan diri dari pengungsian Cox’s Bazar di Bangladesh sekitar 40 hari sebelumnya. Setelah berhasil keluar pengungsian, ia kemudian bertolak dengan kapal kayu bermesin.
Sepuluh hari pertama, menurut dia, makanan masih cukup untuk ratusan pengungsi tersebut. Setelah itu, nyaris tak ada lagi. “Minum air lau (laut, red),” kata dia menuturkan kondisi mereka.
Selama 40 hari perjalanan, menurut Achmad Syukur, 26 anggota rombongan itu meninggal.
Belum selesai nelangsa, di tengah laut kapal mereka mati mesin. Mereka terombang-ambing sepanjang Laut Andaman, kemudian Samudra Hindia. Kejadian itu membuat kapal meleset jauh dari tujuan sebelumnya.
Para pengungsi itu sedianya hendak menuju Semenanjung Malaysia. Kendati demikian, mereka akhirnya terdampar dan ditolong warga di perairan Aceh.
Sepanjang akhir tahun lalu hingga Januari ini, berulang kali kapal-kapal seperti yang dinaiki Achmad Syukur mendarat di Aceh. Dalam kurun waktu dua pekan ini saja, sudah tiga kali warga Rohingya mendarat di pantai Aceh.
Sebelumnya, pada Ahad (25/12/2022), terdampar sebanyak 57 orang di Pantai Indra Patra, Aceh Besar. Kemudian, pada Senin (26/12/2022) juga terdampar sebanyak 174 orang di Kabupaten Pidie.












