Kalau anak tampak masih merana, periksakan ke dokter. Parasetamol bisa saja diresepkan jika diperlukan, tetapi bukan dalam sediaan sirop.
Demam sebetulnya bukan penyakit, melainkan gejala bahwa tubuh sedang memerangi sesuatu yang asing, entah virus, bakteri, atau patogen lainnya. Anak bisa saja demam karena infeksi gigi, infeksi saluran napas atas, demam berdarah dengue, Covid-19, efek samping vaksin, atau penyebab lainnya.
Kasus gangguan ginjal akut ini sekaligus menjadi pengingat bagi kita semua untuk berhati-hati dalam memberikan obat kepada anak. Coba lihat di lemari obat, apakah masih ada obat sisa yang disimpan untuk jaga-jaga? Bisa jadi, obat tersebut seharusnya sudah tidak layak dikonsumsi lagi ketika anak mengalami sakit yang sama.
Ada juga orang tua yang berinisiatif menebus ulang obat resep dokter. Padahal, resep itu hanya untuk satu kali pengobatan. Nah, di sini juga diperlukan peran apotek-rumah obat untuk disiplin tidak menjual obat tanpa resep dokter.
Orang tua juga perlu lebih cermat dalam memberikan obat sesuai dosis dan aturan pakainya. Ketahui pula apa yang harus dilakukan saat dosisnya terlewat.
Di sisi lain, dokter-dokter juga harus menjadi teladan dengan mengedepankan prinsip penggunaan obat yang rasional. Ketika mendapat pasien cilik yang batuk pilek biasa, masih ada yang meresepkan antibiotik berikut racikan tiga sampai lima obat yang dijadikan puyer. Padahal, antibiotik tidak diperlukan dalam mengatasi selesma.
Sementara itu, polifarmasi juga berisiko buat anak. Satu obat saja ada efek sampingnya, apalagi lima! Belum lagi memperhitungkan interaksi obat dan lainnya.












