Menurutnya, semangat kolaborasi tersebut kini diwujudkan melalui visi pembangunan “Banda Aceh Kota Kolaborasi”, yang menempatkan sinergi lintas sektor sebagai instrumen utama percepatan pembangunan.

“Visi ini diharapkan mampu mengakselerasi pembangunan melalui sinergi yang bisa ditransformasikan menjadi sebuah Kolabor AKSI,” katanya.
Ia juga menyampaikan sejumlah capaian pembangunan Kota Banda Aceh. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Banda Aceh tahun 2025 mencapai 89,55, tertinggi di Indonesia dan jauh melampaui rata-rata nasional yang berada pada angka 75,90.
Di sana juga, Illiza turut menawarkan berbagai peluang investasi strategis di Banda Aceh. Sektor yang dibuka untuk kolaborasi antara lain pengembangan pariwisata, marina, resort, perhotelan, pusat hiburan keluarga, peningkatan kompetensi sumber daya manusia melalui Banda Aceh Academy, hingga pengembangan pusat perbelanjaan dan industri halal.
Selain itu, Pemko Banda Aceh juga membuka peluang investasi di sektor perikanan dan logistik, termasuk pembangunan cold storage, pabrik pengalengan ikan, ekstraksi minyak ikan dan kolagen, hingga galangan kapal.
Dalam sektor ekonomi kreatif, Banda Aceh menawarkan pengembangan industri parfum melalui program branding “Banda Aceh Kota Parfum”, yang mencakup pembangunan laboratorium formulasi, rantai pasok, dan pusat edukasi parfum Indonesia.
Sementara di bidang teknologi, Banda Aceh membuka ruang kerja sama untuk pengembangan startup lokal, mitigasi bencana berbasis Internet of Things (IoT), serta penguatan sistem retribusi digital. Di sektor lingkungan, peluang kolaborasi diarahkan pada pengembangan ekonomi sirkular melalui pengolahan sampah organik, budidaya maggot, daur ulang plastik, hingga produksi material konstruksi ramah lingkungan.






